Pengunjung Online : 1.081
Hari ini :8.740
Kemarin :16.246
Minggu kemarin:120.950
Bulan kemarin:455.925

Anda pengunjung ke 48.890.111
Sejak 01 Muharam 1429
( 10 Januari 2008 )

Pengunjung baru?
   |   

Ads_C1
Ahad, 01 Muharam 1436 (Sabtu, 25 Oktober 2014)
Custom Search
Masjid Agung Banten
Kota Serang - Banten - Indonesia
Masjid  Agung Banten
Masjid Agung Banten
Rating : Rating 2.8 2.8 (28 pemilih)

A. Selayang Pandang

Masjid Agung Banten merupakan situs bersejarah peninggalan Kesultanan Banten. Masjid ini dibangun oleh Sultan Maulana Hasanuddin, putera Sunan Gunung Jati, sekitar tahun 1552—1570 M. Masjid ini memiliki halaman yang luas dengan taman yang dihiasi bunga-bunga flamboyan. Pada hari-hari tertentu, misalnya Maulid Nabi Muhammad SAW, masjid ini dipenuhi oleh ribuan peziarah dari berbagai daerah, seperti daerah Banten, Jakarta, Bekasi, Bogor, Purwakarta, Sukabumi, hingga Bandar Lampung.

Selain sebagai obyek wisata ziarah, Masjid Agung Banten juga merupakan obyek wisata pendidikan dan sejarah. Dengan mengunjungi masjid ini, wisatawan dapat menyaksikan peninggalan bersejarah kerajaan Islam di Banten pada abad ke-16 M, serta melihat keunikan arsitekturnya yang merupakan perpaduan gaya Hindu Jawa, Cina, dan Eropa.

Sejarah pendirian Masjid Agung Banten berawal dari instruksi Sultan Gunung Jati kepada anaknya, Hasanuddin. Konon, Sunan Gunung Jati memerintahkan kepada Hasanuddin untuk mencari sebidang tanah yang masih “suci” sebagai tempat pembangunan Kerajaan Banten. Setelah mendapat perintah ayahnya tersebut, Hasanuddin kemudian shalat dan bermunajat kepada Allah agar diberi petunjuk tentang tanah untuk mendirikan kerajaan. Konon, setelah berdoa, secara spontan air laut yang berada di sekitarnya tersibak dan menjadi daratan. Di lokasi itulah kemudian Hasanuddin mulai mendirikan Kerajaan Banten beserta sarana pendukung lainnya, seperti masjid, alun-alun, dan pasar. Perpaduan empat hal: istana, masjid, alun-alun, dan pasar merupakan ciri tradisi kerajaan Islam di masa lalu.

B. Keistimewaan

Keunikan arsitektur Masjid Agung Banten terlihat pada rancangan atap masjid yang beratap susun lima, yang mirip dengan pagoda Cina. Konon, masjid yang dibangun pada awal masuknya Islam ke Pulau Jawa ini desainnya dirancang dan dikerjakan oleh Raden Sepat. Ia adalah seorang ahli perancang bangunan dari Majapahit yang sudah berpengalaman menangani pembangunan masjid, seperti Demak dan Cirebon. Selain Raden Sepat, arsitek lainnya yang ditengarai turut berperan adalah Tjek Ban Tjut, terutama pada bagian tangga masjid. Karena jasanya itulah Tjek Ban Tjut memperoleh gelar Pangeran Adiguna.


Sumber Foto: feb05.multiply.com

Kemudian pada tahun 1620 M, semasa kekuasaan Sultan Haji, datanglah Hendrik Lucaz Cardeel ke Banten, ia seorang perancang bangunan dari Belanda yang melarikan diri dari Batavia dan berniat masuk Islam. Kepada sultan ia menyatakan kesiapannya untuk turut serta membangun kelengkapan Masjid Agung Banten, yaitu menara masjid serta bangunan tiyamah yang berfungsi untuk tempat musyawarah dan kajian-kajian keagamaan. Hal ini dilakukan sebagai wujud keseriusannya untuk masuk Islam. Karena jasanya tersebut, Cardeel kemudian mendapat gelar Pangeran Wiraguna.

Menara masjid tersebut terletak di sebelah timur masjid. Menara ini terbuat dari batu bata dengan ketinggian kurang lebih 24 meter, dengan diameter bagian bawahnya kurang lebih 10 meter. Untuk mencapai ujung menara, pengunjung harus melewati 83 buah anak tangga dan melewati lorong yang hanya dapat dilewati oleh satu orang. Dari atas menara ini, pengunjung dapat melihat pemandangan di sekitar masjid dan  perairan lepas pantai, karena jarak antara menara dengan laut hanya sekitar 1,5 km. Pada zaman dahulu, selain digunakan sebagai tempat mengumandangkan adzan, bangunan ini difungsikan sebagai menara pandang ke lepas pantai. Selain itu, menara ini juga digunakan oleh masyarakat Banten untuk menyimpan senjata pada masa pendudukan Belanda.

Selain menara, pada bagian depan masjid terdapat alat pengukur waktu shalat yang berbentuk lingkaran, dengan bagian atas berbentuk seperti kubah. Pada bagian atas kubahnya ditancapkan kawat berbentuk lidi. Melalui bayangan dari kawat itulah dapat diketahui kapan waktu shalat tiba.

Keunikan lainnya nampak pada umpak dari batu andesit yang berbentuk labu dengan ukuran besar. Umpak batu ini terdapat di setiap dasar tiang masjid, pendopo, dan kolam untuk wudhu. Umpak besar seperti ini tidak terdapat di masjid-masjid lain di Pulau Jawa, kecuali di bekas reruntuhan masjid Kesultanan Mataram di daerah Plered, Bantul, Yogyakarta. Begitu pula dengan bentuk mimbar yang besar dan antik, tempat imam yang berbentuk kecil, sempit, dan sederhana juga menunjukkan kekhasan masjid ini.


Sumber Foto: feb05.multiply.com

Di serambi kiri masjid ini terdapat makam Sultan Maulana Hasanuddin dengan permaisurinya, Sultan Ageng Tirtayasa, dan Sultan Abu Nashr Abdul Kahhar (Sultan Haji). Sementara di serambi kanan, terdapat makam Sultan Maulana Muhammad, Sultan Zainul Abidin, Sultan Abdul Fattah, Pangeran Aria, Sultan Mukhyi, Sultan Abdul Mufakhir, Sultan Zainul Arifin, Sultan Zainul Asikin, Sultan Syarifuddin, Ratu Salamah, Ratu latifah, dan Ratu Masmudah.

C. Lokasi

Masjid Agung Banten terletak di Desa Banten Lama, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Propinsi Banten, Indonesia.

D. Akses

Masjid Agung Banten berada sekitar 10 km sebelah utara Kota Serang. Pengunjung dapat menuju lokasi dengan kendaraan pribadi atau naik bus. Dari Terminal Pakupatan, Serang, Pengunjung dapat melanjutkan perjalanan dengan bus jurusan Banten Lama dengan tarif Rp 4.000 atau dapat juga mencarter angkot dengan biaya sekitar Rp 40.000 (Juni 2008). Perjalanan dari Terminal Pakupatan, Serang, menuju ke lokasi masjid memerlukan waktu sekitar setengah jam.

E. Harga Tiket

Memasuki kawasan obyek wisata Masjid Agung Banten tidak dipungut biaya. Namun, apabila memasuki tempat-tempat seperti menara, tempat wudhu, dan kompleks makam sultan, pengunjung diwajibkan membayar rata-rata Rp 1.000 (Juni 2008).

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Di sekitar masjid ini terdapat penginapan, warung telekomunikasi, dan warung yang menjual aneka jajanan. Selain itu, banyak kios yang menjual perlengkapan sholat, tasbih, kaset rohani, VCD musik, pakaian dewasa dan anak-anak, serta cenderamata suku asli Banten, yaitu suku Baduy.

(Junardi/WM/01/06-08)

__________

Sumber Foto: feb05.multiply.com



Jika Anda dari luar Yogyakarta, dan ingin mengunjungi tempat ini dengan jasa travel biro, silakan hubungi:

Maharatu Tour and Travel

Jl. Sisingamangaraja No. 27 Yogyakarta.
Telp. +62 274 8373005. Fax. +62 274 379250
Email : maharatu@maharatu.com -maharatu257@yahoo.com
Website : www.maharatu.com


Share
Facebook
Dibaca 18.073 kali
Rating :
Jika Anda pernah mengujungi objek wisata ini, berikan rating dan
komentar untuk menjadi perhatian Dinas Pariwisata atau pengelola
obyek wisata setempat.
Komentar - komentar

Adi   29/10/08 12:59
Karawang

Menurut saya, situs tersebut merupakan salah satu peninggalan Nenek Moyang kita pada Zaman Dahulu yg harus kita jaga dan kita rawat kelestariannya. Karena bila tidak, Mesjid tersebut akan hilang ditelan Zaman, bila tidak kita rawat!
murtasiah   06/11/08 12:48
Gg. Masjid Nurul Falah Penancangan Lama Serang Banten

menurut ak, kota serang itu bagus bangt, kaya dgn seni tradisional.. apalagi bulan ini ULTAH Propinsi BANTEN!!! moga negeri ini smkin jaya terus... marilah kita sbg wrga kota Serang lestarikan alam kita!!! SELAMAT ULTAH UNTUK BANTEN YG KE-8 YA!!!
eNa   14/12/08 07:10
Komplek Sapta Marga

Banten merupakan daerah yang bagus dan kaya dengan sejarahnya. kalau bisa, tolong perlihatkan keindahan sejarah dan budaya Banten ke masyarakat luas agar semua orang dapat mengetahui bagaimana Banten dulu hingga sekarang... terimakasih.
slamet riyanto   23/03/09 03:44
ciujung baru, kragilan

cukup bagus dan menarik. terutama bila terus dijaga keaslian dan keutuhan bangunan serta arsitekturnya. moga aja selain menjadi tempat ibadah yang nyaman, sekaligus menjadi tempat rekreasi rohani yang berkesan.
miftah   25/03/09 04:07
Balaraja

Bersama masyarakat dan pemerintah, mari kita jaga Situs sejarah (masjid banten) yang mempunyai nilai historis ini. Kita jaga ke-ASLI-annya, kita kenang kejayaannya! Banten ku, Banten mu, Banten kita semua!
Diba   26/09/09 03:01
Kp. Loa Ds. Loa Kec. Paseh Kab. Bandung

suasana sekitar masjid sangat tidak enak untuk dilihat. banyak sekali pedagang yang membuat suasana sekitar masjid jadi semrawut. seharusnya tempat berjualan dibenahi, agar keindahan masjid agung ini tidak terganggu oleh para pedagang. kebersihan dan kerapian masjid pun harus dirawat. apalagi tempat ini merupakan salah satu peninggalan sejarah Indonesia.
Daus   19/06/10 03:40
Kaujon Serang

Kebudayaan tidak akan pernah hilang jika kita semua dapat melestarikannya dengan cara menjaga dan merawatnya, apalagi Banten sangat terkenal dengan religinya. Maka sangat berkewajibanlah kita sebagai warga Banten untuk menunjukan kepada dunia luar, bahwa warga Banten mampu berprestasi melalui kebudayaannya.
Baru - baru ini (Juli 2010) Propinsi Banten memperoleh prestasi dibidang religi, yaitu meraih juara 3 (tiga) Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat nasional yang diadakan di Bengkulu. Jadi, memang sudah selayaknyalah kita merasa bangga sebagai warga Banten pada khususnya dan umumnya masyarakat indonesia.
Komentar Anda tentang obyek wisata di atas :
Nama : *
Alamat : *
Email : *
URL / Website :
Misal : http://www.wisatamelayu.com/
Komentar - komentar : *
Komentar anda akan dimoderasi oleh administrator terlebih dahulu.
    your browser doesn't support image
Masukkan text diatas
*
   
* = Harus diisi
Fasilitas
  • Hotel
  • Bank
  • ATM dan Penukaran Uang
  • Pusat Informasi Wisata
  • Restoran dan Cafe
  • Biro Perjalanan
  • Souvenir / Cindera Hati
  • Imigrasi
  • Konsulat
  • Terminal Bus
  • Stasiun Kereta Api
  • Pelabuhan Laut / Dermaga
  • Pelabuhan Udara / Bandara
  • Maskapai Penerbangan
  • Kantor Pos
  • Telekomunikasi
  • Rumah Sakit
  • Fotografi & Studio
  • Catering
  • Fasilitas Lainnya
Ads