Pengunjung Online : 1.080
Hari ini :7.865
Kemarin :16.116
Minggu kemarin:93.155
Bulan kemarin:318.741

Anda pengunjung ke 48.395.087
Sejak 01 Muharam 1429
( 10 Januari 2008 )

Pengunjung baru?
   |   

Ads_C1
Jum'ah, 26 Ramadhan 1435 (Kamis, 24 Juli 2014)
Custom Search
Keraton Kasepuhan
Kota Cirebon - Jawa Barat - Indonesia
Keraton Kasepuhan
Gapura Keraton terbuat dari bata merah
Rating : Rating 2.3 2.3 (48 pemilih)

A. Selayang Pandang

Pangeran Sri Mangana Cakrabuana, putra Prabu Siliwangi dari Kerajaan Padjajaran Bogor, tercatat sebagai pendiri Keraton Pakungwati sekitar tahun 1480 M. Kedudukannya sebagai putra mahkota dan tumenggung di Cirebon tak membuatnya ragu untuk memisahkan diri dari Kerajaan Padjajaran. Keputusan tersebut diambil agar beliau lebih leluasa mengembangkan agama Islam dan sekaligus terbebas dari pengaruh agama Hindu, agama resmi Kerajaan Padjajaran.   

Nama Pakungwati diambil dari nama Ratu Ayu Pakungwati, puteri Pangeran Cakrabuana sendiri. Kelak, Ratu Ayu Pakungwati menikah dengan Syarif Hidayatullah, atau yang lebih populer dengan nama Sunan Gunung Djati. Setelah Pangeran Cakrabuana mangkat, Sunan Gunung Djati naik tahta pada tahun 1483 M. Selain sebagai seorang pemimpin yang disegani, Sunan Gunung Djati juga dikenal sebagai seorang ulama terkemuka di Cirebon.

Pada tahun 1568 M Sunan Gunung Djati wafat. Kemudian, posisinya digantikan oleh cucunya, Pangeran Emas yang bergelar Panembahan Ratu. Pada masa Pangeran Emas inilah dibangun keraton baru di sebelah barat Dalem Agung yang diberi nama Keraton Pakungwati. Sejak tahun 1697 M, Keraton Pakungwati lebih dikenal dengan nama Keraton Kasepuhan dan sultannya bergelar Sultan Sepuh.

Pada tahun 1988, untuk menjaga dan melindungi keaslian keraton, terutama koleksi benda-benda kuno peninggalan Kesultanan Cirebon, dua ruangan yang berada di bagian depan Keraton Kasepuhan dijadikan museum yang dapat dikunjungi oleh masyarakat luas.  

B. Keistimewaan

Mengunjungi Keraton Kasepuhan seakan-akan mengunjungi Kota Cirebon tempo dulu. Keberadaan Keraton Kasepuhan juga kian mengukuhkan bahwa di kota Cirebon pernah terjadi akulturasi. Akulturasi yang terjadi tidak saja antara kebudayaan Jawa dengan kebudayaan Sunda, tapi juga dengan berbagai kebudayaan di dunia, seperti Cina, India, Arab, dan Eropa. Hal inilah yang membentuk identitas dan tipikal masyarakat Cirebon dewasa ini, yang bukan Jawa dan bukan Sunda. 

Kesan tersebut sudah terasa sedari awal memasuki lokasi keraton. Keberadaan dua patung macan putih di gerbangnya, selain melambangkan bahwa Kesultanan Cirebon merupakan penerus Kerajaan Padjajaran, juga memperlihatkan pengaruh agama Hindu sebagai agama resmi Kerajaan Padjajaran. Gerbangnya yang menyerupai pura di Bali, ukiran daun pintu gapuranya yang bergaya Eropa, pagar Siti Hingilnya dari keramik Cina, dan tembok yang mengelilingi keraton terbuat dari bata merah khas arsitektur Jawa, merupakan bukti lain terjadinya akulturasi.

Nuansa akulturasi kian kentara ketika memasuki ruang depannya yang berfungsi sebagai museum. Selain berisi berbagai pernak-pernik khas kerajaan Jawa pada umumnya, seperti kereta kencana singa barong, dua tandu kuno, dan berbagai jenis senjata pusaka berusia ratusan tahun, di museum ini pengunjung juga dapat melihat berbagai koleksi cinderamata berupa perhiasan dan senjata dari luar negeri, seperti senapan Mesir, meriam Mongol, dan zirah Portugis. Singgasana raja yang terbuat dari kayu sederhana dengan latar sembilan warna bendera yang melambangkan Wali Songo. Hal ini membuktikan bahwa Kesultanan Cirebon juga terpengaruh oleh budaya Jawa dan agama Islam.

Selain itu, di halaman belakang pengunjung dapat melihat taman istana dan beberapa sumur dari mata air yang dianggap keramat dan membawa berkah. Kawasan ini ramai dikunjungi peziarah pada upacara panjang jimat yang digelar pihak keraton setiap tahun untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.         

C. Lokasi

Keraton Kasepuhan terletak di Jalan Keraton Kasepuhan No. 43, Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Provinsi Jawa Barat, Indonesia.

D. Akses

Dari Jakarta menuju Cirebon, pengunjung dapat menggunakan bus, travel, atau kereta api. Transportasi serupa juga dapat digunakan pengunjung yang datang dari Bandung. Sesampainya di Cirebon, pengunjung dapat naik angkutan kota atau ojek menuju lokasi keraton.    

E. Harga Tiket

Pengunjung dewasa dipungut biaya Rp 3.000, sementara pengunjung anak-anak Rp 2.000 (Desember 2008). Selain itu, apabila wisatawan memanfaatkan jasa pemandu, diharapkan memberikan uang seiklasnya.

F. Jadwal Kunjungan

  • Hari Senin-Sabtu: 08.00-16.00 WIB.
  • Hari Minggu/Libur: 08.00-17.00 WIB.

G. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Di dalam lokasi keraton terdapat Masjid Agung Sang Cipta Rasa, pusat informasi pariwisata, pramuwisata, pendopo tempat istirahat, dan sekolah tari. Di luar keraton, pengunjung dapat dengan mudah menemukan kios wartel, voucher isi ulang pulsa, warung makan, serta sentra oleh-oleh dan cinderamata.

Pengunjung yang ingin bermalam tidak perlu khawatir, karena di kawasan Keraton Kasepuhan terdapat wisma-wisma dan hotel-hotel dengan berbagai tipe.

(Yusriandi Pagarah/wm/35/03-08)

__________

Sumber Foto: Koleksi www.wisatamelayu.com (Fotografer: Tuti Nonka)



Jika Anda dari luar Yogyakarta, dan ingin mengunjungi tempat ini dengan jasa travel biro, silakan hubungi:

Maharatu Tour and Travel

Jl. Sisingamangaraja No. 27 Yogyakarta.
Telp. +62 274 8373005. Fax. +62 274 379250
Email : maharatu@maharatu.com -maharatu257@yahoo.com
Website : www.maharatu.com


Share
Facebook
Dibaca 24.777 kali
Rating :
Jika Anda pernah mengujungi objek wisata ini, berikan rating dan
komentar untuk menjadi perhatian Dinas Pariwisata atau pengelola
obyek wisata setempat.
Komentar - komentar

hadi mulyana   16/07/08 02:41

Obyek wisata ini salah satu andalan kota cirebon, bagi anda yang datang ke cirebon pastikan untuk mengunjungi Kraton Kasepuhan yang memiliki sejarah yang unik.....
kraton ini perlu adanya perawatan yang intensif karena umur bangunan kraton ini sudah sangat tua sekali.
saya sangat senang dapat berkunjung ke Kota Cirebon yang memiliki kebudayaan yang unik dan berbeda dengan daerah2 lain yang ada di jawa.
Iriyanto   22/07/08 12:57

Sebagai orang asli cirebon saya bangga dengan keraton2 di kota cirebon, bagaimanapun cirebon sangat berjasa dalam penyebaran agama islam di indonesia khususnya masyarakat cirebon hingga saat ini.
Beberapa bulan lalu saya berkunjung ke keraton cirebon, ternyata keraton kasepuhan tidak seperti apa yang kita bayangkan anggun, indah, bersih, berwibawa dan penuh magis tapi malah sebaliknya kotor, jorok, tanpa wibawa bahkan nilai magisnya hilang sama sekali. Kesan saya, seperti mainan di rumah dan kebon yang kosong.
heri   11/10/08 11:18
singaraja-bali

menurut saya keraton di cirebon ini sangatlah menarik dan harus dipelihara dengan sebaik-baiknya.
SAEHURAHMAN   20/02/09 06:17
BLOK SINTEN, PLUMBON CIREBON

Menurut gw keraton kasepuhan ini dimaksudkan sebagai pembelajaran dari sejarah-sejarah jaman dulu, semoga keraton kasepuhan ini bermanfaat dan dipelihara dengan sebaik-baiknya.
aghito   24/02/09 12:26
leuweunggajah. ciledug cirebon

pentingnya sebuah sejarah, sebagai perwujudan sebuah daerah, di mana sejarah sebagai simbol dari keberadaan suatu negara.
ijoel   19/03/09 04:13
jakarta

aku mau tanya pembukuan nama keturunan keraton cirebon, soalnya pd tahun 1981 kakekku ke sana menanyakan siapa para orang tuanya... tetapi katanya digelapkan oleh petugas pembukuan itu.
ahmad furqon   11/04/09 05:39
japura bakti, astana japura, cirebon

harus lebih ditingkatkan lagi kinerja para pemerintah kota cirebon. agar tidak kalah dengan kota-kota besar lainnya!
CHIKA   10/05/09 09:59
LW GAJAH

BAGUS BANGET!!!
Maureen   19/07/09 08:02
Perum. Mampang Indah, Jakarta

gue udah beberapa kali ke keraton dan kebetulan ga pernah bayar, hehe... krn nenek dr pihak ayah msh keturunan raja2 terdahulu wlwpun udh ga tinggal di sana lg.
well menurut gue harusnya pemerintah daerah sana harus lebih bisa merawat dan melestarikan wisata peninggalan bersejarah cirebon, jujur krn di sana sepi sekali dan jarang pengunjung jika dibandingkan dengan kota2 lainnya. itu mungkin krn lingkungannya yg kurang terawat dgn baik. sebagai generasi muda gue berharap sekali adanya perbaikan dan usaha untuk melestarikan budaya bangsa kita tsbt.
yudas   24/12/09 05:29
jakarta

beberapa kali kesini, saya sering kecewa dengan kanoman. kondisinya kotor tak terawat. apalagi makam sunan gunung jati. banyak sekali yang minta2 dengan paksa dan kasar. padahal itu kan tempat sakral
G.R.M. Noto Kusumo   12/04/10 03:51
godong

lah kraton cirebon reget banget.... mbok alu2ne aja dadi pasar ! contohlah kasunanan solo dan kasultanan jogja yang terawat dengan baik. apa rajane cirebon ora duwe abdi dalem sing ngresik2i kraton? karaton kok kemproh.....gela aku.....
surya   31/10/10 02:16
cirebon

mudah-mudahan, keraton paling tua d cirebon bisa terplihara dngan baik dn hars sangat d perhatikan.. jngan d biarkan begitu saja..
malu dengan wisatawan yg berkunjung k kraton..
jngan orangny saja yg di rawaat..
arky   18/12/10 05:36
pegagan kpetakan

HIDUP CIREBON...........................MERDEKA,,,,KITA BANGGA JADI ANAK CIREBON. KITA ANJURIN SMA PEMKOT N PEMKAB CIREBON SUPAYA LBH MMPRHTIKAN PENINGGALN NNEK MOYANG KITA.
Komentar Anda tentang obyek wisata di atas :
Nama : *
Alamat : *
Email : *
URL / Website :
Misal : http://www.wisatamelayu.com/
Komentar - komentar : *
Komentar anda akan dimoderasi oleh administrator terlebih dahulu.
    your browser doesn't support image
Masukkan text diatas
*
   
* = Harus diisi
Fasilitas
  • Hotel
  • Bank
  • ATM dan Penukaran Uang
  • Pusat Informasi Wisata
  • Restoran dan Cafe
  • Biro Perjalanan
  • Souvenir / Cindera Hati
  • Imigrasi
  • Konsulat
  • Terminal Bus
  • Stasiun Kereta Api
  • Pelabuhan Laut / Dermaga
  • Pelabuhan Udara / Bandara
  • Maskapai Penerbangan
  • Kantor Pos
  • Telekomunikasi
  • Rumah Sakit
  • Fotografi & Studio
  • Catering
  • Fasilitas Lainnya
Ads