Pengunjung Online : 779
Hari ini :6.078
Kemarin :15.125
Minggu kemarin:108.773
Bulan kemarin:455.925

Anda pengunjung ke 48.913.830
Sejak 01 Muharam 1429
( 10 Januari 2008 )

Pengunjung baru?
   |   

Ads_C1
Jum'ah, 06 Muharam 1436 (Kamis, 30 Oktober 2014)
Custom Search
Upacara Adat Garebeg Keraton Yogyakarta
Kota Yogyakarta - D.I. Yogyakarta - Indonesia
Upacara Adat Garebeg Keraton Yogyakarta
Upacara Adat Garebeg Keraton Yogyakarta
Rating : Rating 2.9 2.9 (28 pemilih)

A. Selayang Pandang

Upacara Adat Garebeg Keraton Yogyakarta merupakan upacara adat yang diadakan sebagai kewajiban sultan untuk menyebarkan dan melindungi agama Islam. Upacara yang lebih dikenal dengan nama grebeg ini pertama kali diadakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I (17551792).

Nama Garebeg sendiri berasal dari peristiwa miyos atau keluarnya sultan dari dalam istana bersama keluarga dan kerabatnya untuk memberikan gunungan kepada rakyatnya. Peristiwa keluarnya sultan dan keluarganya ini diibaratkan seperti suara tiupan angin yang cukup keras, sehingga menimbulkan bunyi garebeg... garebeg... garebeg...

Upacara Garebeg diadakan tiga kali dalam setahun, pada tanggal-tanggal yang berkaitan dengan hari besar agama Islam, yakni Garebeg Syawal, Garebeg Maulud, dan Garebeg Besar. Garebeg Syawal dilaksanakan sebagai bentuk ungkapan syukur dari keraton setelah melampaui bulan puasa, dan sekaligus untuk menyambut datangnya bulan Syawal. Garebeg Maulud diadakan untuk merayakan dan memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sedangkan Garebeg Besar, diselenggarakan untuk merayakan Iduladha yang terjadi dalam bulan Zulhijah, yang dalam kalender Jawa sering disebut sebagai bulan besar.

B. Keistimewaan

Upacara Garebeg ini dimulai dengan parade prajurit keraton. Di dalam Keraton Yogyakarta, terdapat sepuluh kelompok prajurit, yakni: Wirobrojo, Daheng, Patangpuluh, Jagakarya, Prawirotama, Ketanggung, Mantrijero, Nyutra, Bugis, dan Surakarsa. Satu per satu, delapan kelompok prajurit keluar dari Siti Hinggil melewati Pagelaran dan berhenti di Alun-alun Utara dengan formasi barisan khasnya. Masing-masing kelompok menggunakan pakaian kebesaran prajurit, membawa senjata khusus, panji-panji, seraya memainkan alat musik. Usai delapan kelompok prajurit keluar, barisan dilanjutkan dengan keluarnya Manggala Yudha (panglima keraton). Di akhir parade, gunungan dibawa keluar dari Siti Hinggil dengan diiringi oleh dua kelompok prajurit sisanya.

Gunungan merupakan tumpukan makanan yang menyerupai gunung, yang menjadi ciri khas dalam setiap Upacara Garebeg. Gunungan terdiri dari berbagai hasil bumi, dan merupakan simbol dari kemakmuran Keraton Yogyakarta, yang nantinya akan dibagikan kepada rakyatnya. Dalam perayaan Garebeg, terdapat enam jenis gunungan, masing-masing memiliki bentuk yang berbeda dan terdiri dari jenis makanan yang berbeda pula. Gunungan dharat merupakan gunungan yang puncaknya berhamparkan kue besar berbentuk lempengan yang berwarna hitam dan di sekelilingnya ditancapi dengan ilat-ilatan, yaitu kue ketan yang berbentuk lidah. Gunungan gepak merupakan gunungan yang terdiri dari empat puluh buah keranjang yang berisi aneka ragam kue-kue kecil dengan lima macam warna, yaitu merah, biru, kuning, hijau, dan hitam. Gunungan kutug/bromo terdiri dari beraneka ragam kue-kue yang di bagian puncaknya diberi lubang, sehingga tampak sebuah anglo berisi bara yang membakar kemenyan. Gunungan lanang pada bagian puncaknya ditancapi kue dari tepung beras yang disebut mustaka (kepala). Gunungan ini terdiri dari rangkaian kacang panjang, cabe merah, telur itik, dan ketan. Gunungan wadon merupakan gunungan yang terdiri dari beraneka ragam kue-kue kecil dan juga kue ketan. Gunungan pawuhan merupakan gunungan yang bentuknya mirip dengan gunungan wadon, namun pada bagian puncaknya ditancapi bendera kecil berwarna putih.

Gunungan-gunungan ini kemudian dibawa menuju Alun-alun Utara. Saat itulah, prajurit keraton yang sudah berbaris di sana memberikan salvo (tembakan serentak sejumlah senapan), sebagai tanda penghormatan. Usai tanda penghormatan diberikan, dengan diiringi oleh seluruh prajurit, gunungan dibawa menuju Masjid Gedhe Kauman untuk didoakan oleh penghulu masjid. Setelah didoakan, gunungan diturunkan agar bisa diambil oleh pengunjung yang sudah menantikan kedatangannya di sekitar Masjid Gedhe Kauman. Begitu diturunkan, pengunjung segera berebut untuk mengambil makanan apapun yang disusun dalam gunungan. Mereka yang berebut makanan ini percaya bahwa makanan yang ada dalam gunungan tersebut dapat mendatangkan berkah dan kesejahteraan. Beberapa jenis makanan ada yang dipercaya jika ditanam di sawah ataupun di kebun dapat menyuburkan tanah, sehingga hasil panennya akan baik.

C. Lokasi

Keseluruhan Upacara Garebeg diadakan di tiga tempat berbeda, namun letaknya berdekatan. Upacara berawal di Pagelaran Keraton Yogyakarta, kemudian berjalan melewati Alun-alun Utara, dan berakhir di Masjid Gedhe Kauman. Semuanya terletak di Kota Yogyakarta, Provinsi DIY, Indonesia.

D. Akses

Untuk sampai ke keraton, Anda dapat menggunakan bus Trans Jogja trayek 1B, 2A, 2B, dan 3A dari halte-halte terdekat dan membayar Rp 3.000,00 (Oktober 2008). Jika menggunakan transportasi umum ini, Anda harus turun di halte Kantor Pos Besar, kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki atau menggunakan becak untuk sampai ke keraton. Jika ingin lebih nyaman dan mudah, Anda dapat menggunakan taksi dari tempat Anda menginap hingga depan loket keraton.

E. Harga Tiket

Untuk masuk ke wilayah keraton dan melihat keseluruhan rangkaian upacara ini, pengunjung dikenakan biaya Rp 10.000,00 per orang (Oktober 2008).

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Di sekitar keraton terdapat tempat parkir untuk motor dan mobil, sehingga bagi Anda yang membawa kendaraan pribadi tidak perlu merasa khawatir. Selain itu, di luar gerbang keraton, pengunjung dapat menjumpai berbagai macam penjual mainan tradisional, suvenir, serta makanan dan minuman.

(Des Christy/wm/07/10-08)

__________

Sumber Foto: Koleksi www.wisatamelayu.com


Jika Anda dari luar Yogyakarta, dan ingin mengunjungi tempat ini dengan jasa travel biro, silakan hubungi:

Maharatu Tour and Travel

Jl. Sisingamangaraja No. 27 Yogyakarta.
Telp. +62 274 8373005. Fax. +62 274 379250
Email : maharatu@maharatu.com -maharatu257@yahoo.com
Website : www.maharatu.com


Share
Facebook
Dibaca 22.687 kali
Rating :
Jika Anda pernah mengujungi objek wisata ini, berikan rating dan
komentar untuk menjadi perhatian Dinas Pariwisata atau pengelola
obyek wisata setempat.
Komentar - komentar

handonowari   21/02/08 03:05

Bagus, menyenangkan
Lengkap dan dapat menjadi bahan informasi pengembangan wisata daerah.
Selamat
Wikan   09/02/09 08:42
johny_yoga21@yahoo.com

Bisa ditambah dengan alat-alat tradisional apa saja pada upacara grebeg Yogyakarta gak? Thx!
azif rayani   20/07/09 07:51
wijaya kusuma wk 6 no.73a samarinda

sangat menyenangkan di saat menyaksikan grebek kraton di jogjakarta, atau biasanya disertai dengan pasar malam atau biasa disebut acara Sekaten. banyak ditampilkan prajurid karaton yang berpakaian berbeda-beda sesuai dengan nama pasukannya. dipertahankan ya, untuk melestarikan budaya kraton atau indonesia khususnya. juga ada gamelan yang dimainkan di masjid besar kraton. wassalam...
wulan   17/10/09 12:10
kebagusan besar

maaf ,kalau saya datang pada saat gerebeg besar, hari keduanya idul adha kira2 ada acara apa saja ya? terima kasih...
email saya: bee_hikari@yahoo.com
Komentar Anda tentang obyek wisata di atas :
Nama : *
Alamat : *
Email : *
URL / Website :
Misal : http://www.wisatamelayu.com/
Komentar - komentar : *
Komentar anda akan dimoderasi oleh administrator terlebih dahulu.
    your browser doesn't support image
Masukkan text diatas
*
   
* = Harus diisi
Fasilitas
  • Hotel
  • Bank
  • ATM dan Penukaran Uang
  • Pusat Informasi Wisata
  • Restoran dan Cafe
  • Biro Perjalanan
  • Souvenir / Cindera Hati
  • Imigrasi
  • Konsulat
  • Terminal Bus
  • Stasiun Kereta Api
  • Pelabuhan Laut / Dermaga
  • Pelabuhan Udara / Bandara
  • Maskapai Penerbangan
  • Kantor Pos
  • Telekomunikasi
  • Rumah Sakit
  • Fotografi & Studio
  • Catering
  • Fasilitas Lainnya
Ads