Ahad, 06 Safar 1436 (Sabtu, 29 November 2014)
Loading

Kuliner Khas Ramadhan di Gang Kauman

 
Kuliner Khas Ramadhan di Gang Kauman

Yogyakarta, WisataMelayu.comMemasuki bulan suci Ramadhan, suasana sore hari di Gang Kauman, DI. Yogyakarta, jauh berbeda dari hari-hari biasanya. Gang sempit sepanjang 300-an meter yang membelah Kampung Kauman ini tampak semarak oleh para pedagang dan pembeli aneka macam minuman dan makanan khas buka puasa.

Kauman sendiri adalah salah satu kampung di lingkungan sekitar Keraton Yogyakarta, yang konon merupakan tempat berkumpulnya para alim dan ulama dari Yogyakarta dan sekitarnya. Organisasi Muhammadiyah yang dirintis oleh K.H. Ahmad Dahlan pun lahir di kampung ini. Secara etimologi, Kauman berasal dari kata “qoimuddin” yang kemudian oleh lidah orang Jawa disebut “pakauman”, yang berarti orang-orang berilmu agama. Namun, nama Kauman akhirnya menjadi lebih terkenal dan mudah dilafalkan.


Sejak pukul 14.30 WIB, gang yang berada di sisi barat Masjid Gedhe Kauman ini sudah mulai sibuk. Semakin sore, pengunjung yang datang semakin ramai. Mereka tidak hanya berasal dari Kampung Kauman, melainkan juga banyak yang berasal dari luar kampung. Pemandangan yang tampak pada Kamis sore (11/9) itu tak ubahnya seperti pasar. Warga Kauman sendiri menyebutnya sebagai Pasar Sore Ramadhan.

Sekitar 70 meja pedagang musiman berjejer rapi menjajakan aneka makanan dan minuman untuk buka puasa. Ada beragam es, kolak, koktail, gorengan, jajanan pasar, hingga gudeg basah dan kering. Selain itu, ada satu makanan khas Yogyakarta yang “menghilang” di luar bulan puasa tapi muncul saat Ramadhan tiba, yaitu kicak.

“Makanan ini sebenarnya sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Tapi adanya, ya, hanya pada bulan puasa, terutama untuk buka puasa,” kata Mbah Sutiah (79) kepada kru WisataMelayu.com, yang mengaku membuat kicak sejak puluhan tahun lampau. Menurut Mbah Sutiah, kicak terbuat dari beras ketan yang dimasak dengan campuran parutan kelapa, gula, dan buah nangka. Agar aromanya mengundang selera, biasanya ditambah vanili atau daun pandan. Rasanya gurih, kenyal, dan sedikit manis.

Dalam membuat penganan ini, Mbah Sutiah memang termasuk pionir. Bahkan Mbah Sutiah dapat dikatakan yang pertama kali membuat kicak berbahan beras ketan sekitar 50 tahun lalu. Sebab, sebelumnya, bahan utama kicak adalah ketela yang diparut. Eksperimen Mbah Sutiah itu ternyata lebih disukai dan ditiru oleh para pedagang lainnya.

Salah satu pembuat dan penjual kicak generasi setelah Mbah Sutiah adalah Ibu Arini (46), warga Kampung Kauman. Sudah beberapa tahun ini Ibu Arini cukup konsisten dengan hanya menjual kicak di mejanya, berbeda dengan pedagang lainnya yang menjadikan kicak hanya sebagai pelengkap dagangan. “Seperti Ramadhan tahun lalu, bulan puasa tahun ini saya tetap hanya menjual makanan kicak yang saya buat sendiri,” ucap Ibu Arini.

Harga penganan ini relatif murah, per bungkusnya berkisar antara Rp 1.000 sampai Rp 1.500. Namun, sebenarnya Ibu Arini tidak menentukan harga yang pasti. Para pembeli bisa mengajukan harga sendiri, kemudian Ibu Arini yang menentukan porsinya. “Mau beli Rp 1.000 boleh, beli Rp 2.000 juga boleh,” ujarnya.

Sekitar 50 pedagang di Gang Kauman adalah para ibu. Rata-rata mereka berjualan hanya untuk mengisi kesibukan pada bulan Ramadhan. Dulu mereka memang banyak membuat sendiri aneka makanan buka puasa untuk dijual kepada masyarakat dan mahasiswa yang kos di daerah Kauman. Tapi, kini sebagian besar makanan dan jajanan yang mereka jual justru merupakan titipan dari masyarakat di luar Kampung Kauman.

Di pasar sore ini, kicak memang menjadi andalan. Namun, makanan khas Yogyakarta lainnya juga banyak ditemui, seperti carang gesing, semar mendem, dan jadah manten. Bahkan, karena sebagian dagangan yang dijual adalah titipan, variasi makanan di pasar ini menjadi lebih lengkap. Semuanya mengundang selera. Masakan iso goreng, sate burung dara, sambal goreng teri, tengkleng, buntil, brongkos, hingga semur jengkol semuanya tersedia.


Salah satu lapak yang cukup lengkap adalah milik Ibu Maryatun (53). Makanan yang dibuat sendiri oleh Ibu Maryatun hanya serabi, kolak, dan koktail. Tapi, titipan orang lain membuat dagangannya cukup lengkap. Ada puluhan jenis sayur dan lauk-pauk, seperti bistik daging, sate ayam, sambal udang pedas, sayur lodeh, lele goreng, mangut lele, dan sambal goreng teri. Aneka kue dan gorengan juga tersedia. Makanan kicak pun terselip di antara puluhan makanan yang dijajakannya. Di lapak Ibu Maryatun ini, tampak puluhan orang antri sambil menunggu berkumandangnya azan magrib. Saat gema azan terdengar, tanpa komando, mereka yang berpuasa menyantap berbagai minuman dan makanan yang sudah dipesan.

Soal harga, cukup bersahabat. Aneka jajanan basah, seperti roti, wajik, lapis, dan kolak, harganya berkisar Rp 700 hingga Rp 1.000 per buah. Sedangkan untuk lauk dijual mulai Rp 1.000 hingga Rp 2.500 per bungkus. Bahkan, untuk aneka sayur dan sambal, harganya tidak dibatasi. Membeli Rp 1.000 pun tetap akan dilayani.

Salah satu pembeli, Imadah (21), mahasiswi semester tujuh sebuah universitas swasta di Yogyakarta, mengaku bahwa ibunya selalu minta dibelikan makanan kicak khas bulan puasa di Gang Kauman. “Di sini setiap bulan puasa kami beli makanan kicak untuk berbuka puasa,” ucapnya. Sore itu, Imadah terlihat memborong lima jenis makanan khas Yogyakarta lainnya. Beberapa pembeli setelahnya juga melakukan hal serupa.

Dari tahun ke tahun, keberadaan Pasar Sore Ramadhan di Kampung Kauman menjadi daya tarik tersendiri bagi kampung ini. Semaraknya senantiasa dinanti oleh masyarakat. Selain tidak terlepas dari kepentingan ekonomi, keberadaan pasar ini merupakan upaya masyarakat Kampung Kauman untuk turut menyiarkan gema Ramadhan.

(Tasyriq Hifzhillah/brt/03/09-08)

Dibaca 3.721 kali

Tulis komentar Anda !



Ads

Adsense Indonesia