Pengunjung Online : 738
Hari ini :22.158
Kemarin :21.821
Minggu kemarin:134.185
Bulan kemarin:459.585

Anda pengunjung ke 49.131.851
Sejak 01 Muharam 1429
( 10 Januari 2008 )

Pengunjung baru?
   |   

Ads_C1
Isnain, 28 Safar 1436 (Minggu, 21 Desember 2014)
Beranda > Berita > Baarakan Budaya Semarakkan Pembukaan Kongres Kebudayaan Banjar II
5 April 2010 06:50

Baarakan Budaya Semarakkan Pembukaan Kongres Kebudayaan Banjar II

 
Baarakan Budaya Semarakkan Pembukaan Kongres Kebudayaan Banjar II
Banjarmasin, MelayuOnline.Com - Kongres Kebudayaan Banjar II yang berlangsung pada tanggal 4-7 April 2010, kemarin dibuka secara resmi oleh Gubernur Kalimantan selatan, Ir. Rudy Ariffin. Bertempat di depan Kantor Dinas Gubernur Kalsel, pembukaan kongres tersebut berlangsung meriah. Warga Kota Banjarmasin datang berduyun-duyun memenuhi tempat pembukaan kongres sembari ikut menanti dimulainya baarakan yang menjadi sajian utama acara pembukaan konggres.

Alhamdulillah, semua Urang Banua yang berasal dari semua penjuru perantauan dapat hadir dalam Kongres Kebudayaan Banjar ini,” ungkap Ir. Rudy Ariffin dalam sambutannya.

Kongres Kebudayaan Banjar II ini, lanjut Gubernur, terasa lebih istimewa karena dihadiri oleh semua undangan peserta yang merupakan pewakilan dari komunitas masyarakat Banjar di semua penjuru perantauan baik di dalam negeri maupun luar negeri. Para peserta antara lain berasal dari Langkat, Serdang Bedagai, Kuala Tungkal Jambi, Tanjung Pinang, Batam, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Kalimantan Timur, Pontianak, Kuala Kapuas, Samarinda, Mataram, dan Makassar. Sementara itu, dari luar negeri, perwakilan komunitas Banjar yang hadir datang dari Kuala Selangor, Perak, Melaka, Kelantan, Sabah, Serawak, Pahang dan Johor Baru. Kongres Banjar II yang digelar pada tahun ini merupakan lanjutan dari Kongres Kebudayaan I yang diselenggarakan pada bulan November 2007 lalu.

“Kongres Kedua ini menjadi tanda bahwa hasil dari Kongres Kebudayaan Banjar I sudah mulai terlihat. Oleh karena itu, semangat tersebut harus tetap dilanjutkan ke depan,” jelas Rudy Ariffin.

Rudy menjelaskan bahwa keterpeliharaan budaya Banjar hingga menjadi seperti sekarang ini didukung oleh sumbangsih para perantau asal Banjar dari tanah perantauan mereka. Meskipun tersebar di berbagai pelosok nusantara, Urang Banua tetap menyangga kehidupan mereka dengan tetap melestarikan nilai-nilai budaya Banjar.

“Di tengah hantaman budaya global, kebudayaan Banjar tetap mampu bereksistensi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Banjar di mana pun mereka berada. Oleh karena itu, selaku Gubernur Kalsel, saya menyampaikan penghargaan sebesar-besarnya kepada Urang Banua yang hadir dalam kongres ini,” ungkap Rudy yang akan mengakhiri jabatannya sebagai Gubernur Kalsel pada pertengahan tahun ini.

Dalam kesempatan tersebut, Rudy juga sempat memeriksa kehadiran wakil-wakil komunitas Urang Banua dari segala penjuru dan memperkenalkan mereka kepada undangan lain serta kepada masyarakat umum di Kota Banjarmasin. Selain peserta dan masyarakat Banjarmasin, Kongres Kebudayaan Banjar ini juga dihadiri oleh unsur muspida, DPRD dan DPD Provinsi Kalimantan Selatan. Hadir juga dalam kongres ini antara lain bupati dan walikota seluruh kabupaten di Kalimantan Selatan serta rombongan staf ahli dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Jakarta.

Peran Kongres Budaya

Dalam perjalanannya, Kongres Kebudayaan Banjar mengambil peran yang cukup besar dalam menentukan arah kebijakan kebudayaan pemerintah Kalsel. Dalam kurun waktu tiga tahun semenjak Kongres pertama diselenggarakan, telah lahir tiga Peraturan Pemerintah (PP) menyangkut pelestarian dan perlindungan bahasa, kesenian, dan benda-benda purbakala dan bersejarah lainnya. PP tersebut adalah PP no 6,7, dan 8 yang lahir disahkan pada tahun 2009.

“Saat ini, bahasa Banjar sudah dimasukkan dalam pelajaran muatan lokal di seluruh lembaga pendidikan di Kalimantan Selatan. Selain itu, kawasan dan benda-benda sejarah juga telah dilindungi keberadaannya secara hukum,” jelas Rudy Ariffin.

Rencananya, selain dibuka oleh Gubernur Kalimantan Selatam, Kongres ini juga akan dibuka oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Ir. Jero Wacik, S.E. Namun, karena sedang menyertai kunjungan Presiden ke Luar Negeri, Jero Wacik urung hadir membuka Kongres. Dalam acara ini, Jero Wacik diwakili oleh Staf Ahli Departemen Kebudayaan dan Pariwisata bidang pranata sosial, Surya Yoga.

Dalam sambutannya, Surya Yoga sempat menyinggung keterkaitan antara visi dan misi Kongres Kebudayaan Banjar I dan II yang sebenarnya memiliki kaitan erat. Dalam hal tema, Surya Yoga menjelaskan bahwa jika tema Kongres I adalah Kebudayaan Banjar sebagai Batang Tarandam (batang yang terendam), maka setelah tiga tahun mencoba untuk tidak terendam lagi, seharusnya saat ini sudah bisa terlihat, jenis batang apakah yang selama ini terendam dan apa yang harusnya dilakukan dengan batang yang mulai tampak tersebut.

Staf Ahli Bidang Pranata Sosial Disbudpar Pusat, Surya Yoga, saat membacakan pidato Menteri Kebudayaan dan Pariwisata yang tidak bisa hadir membuka Kongres Kebudayaan Banjar II.

“Saat ini sudah bisa terlihat, apakah batang tarandam itu berjenis kayu ulin, jati ataukah yang lainnya? Lalu apa yang akan dilakukan dengan batang tersebut selanjutnya? Itulah yang harus dibahas dalam Kongres Kedua ini,” jelas Surya Yoga.

Kongres Kebudayaan Banjar II ini secara resmi dibuka dengan lambaian sekuntum batang padi ke segala penjuru mata angin oleh Gubernur Kalsel.

Sasangga Banua

Tema Kongres Budaya Banjar II ini adalah “Manahapi Kebudayaan Banjar, Gasan Sasangga Banua”. Dengan tema ini, Kongres Kebudayaan Banjar diharapkan mampu menginspirasi dan menumbuhkan suatu gerakan masyarakat pendukung budaya Banjar di mana pun berada sehingga dapat mengembangkan dan melestarikan budaya Banjar secara bertanggung jawab. Tata nilai inilah yang nanti akan sangat bermanfaat bagi warga Banjar dalam pola pergaulan mereka.

“Ada pepatah Banjar yang berbunyi, haram manyarah waja sampai kaputing. Pepatah ini memberi arti bahwa dalam memberi arti terhadap perjuangan mereka, orang Banjar tidak akan menyerah sampai berhasil. Semangat yang sama juga harus disemaikan dalam perjuangan menjaga budaya Banjar,” jelas Ketua panitia Kongres Kebudayaan Banjar II, H. Fitri Rifani, S.H., M.H, dalam sambutannya.

Dengan tema dan semangat itulah, Fitri menambahkan, sebenarnya budaya Banjar memiliki potensi untuk disejajarkan dengan budaya lain yang selama ini telah mendominasi masyarakat. Oleh karena itu, tema Kongres II ini adalah lanjutan dari tema Kongres I untuk memperkuat (manahapi) budaya sendiri, dan serta menyangga serta menopang daerah (banua) dalam segala aspek kehidupan.

Kemeriahan Baarakan

Setelah dibuka secara resmi, Baarakan (karnaval) budaya se-Kalimantan Selatan menyemarakkan pembukaan Kongres Kebudayaan Banjar II. Baarakan ini menjadi simbol antusiasme warga Kalimantan Selatan dalam melestarikan warisan tradisi budaya mereka. Jajaran peserta Kongres dan undangan pun tampak antusias dan menikmati baarakan meskipun matahari cukup terik.

Baarakan pada dasarnya merupakan suatu upaya untuk memperkenalkan kekayaan budaya Banjar kepada masyarakat luas. Rupa-rupa karya seni dan budaya ditampilkan dalam baarakan ini. Karya-karya tersebut antara lain Papantulan, Kuda Gepeng, Wayang Ging, Payung ubur-ubur, Payung kembang, Pemain Tarabang, pemain bendera, Sasingaan, Nanag galuh banjarm rampak, Hadrah kuntau, dan permainan gasing.

Karya seni dan budaya yang ditampilkan dalam Baarakan Budaya Banjar.

Baarakan disajikan terus-menerus sejak pukul 03.00 WITA hingga acara pembukaan selesai. Peserta yang mengikuti Baarakan ini dikumpulkan dari berbagai kabupaten yang ada di Kalimantan Selatan dengan harapan mampu diekspos oleh media sehingga membuka peluang untuk dikembangkan oleh daerah secara lebih intens lagi. (ATP/brt/20/04-10)

Dibaca 3.232 kali

Share
Facebook

Tulis komentar Anda !




Custom Search